Bogor Bagus - Sumatera tengah berjuang menghadapi bencana yang melanda sejumlah wilayah, namun di balik upaya pemerintah yang gigih, gelombang informasi menyesatkan justru merajalela di dunia maya. Sejak hari pertama, pemerintah telah mengerahkan TNI-Polri, kementerian, dan BUMN untuk mempercepat proses evakuasi, distribusi bantuan, serta pemulihan layanan dasar.

Sayangnya, alih-alih memperkuat rasa solidaritas, banyak narasi di media sosial malah menimbulkan keraguan di kalangan publik. Efriza, seorang pengamat kebijakan publik dari Citra Institute, menegaskan bahwa fenomena ini menunjukkan lemahnya ketahanan informasi di masyarakat.

"Respons pemerintah sudah terlihat nyata di lapangan. Tapi ketika literasi digital rendah, opini bisa dengan mudah dibelokkan oleh narasi yang tidak berdasar," kata Efriza, Senin (23 Oktober).

TNI-Polri telah bergerak cepat untuk mengevakuasi korban dan mengamankan wilayah yang terdampak. Kementerian dan BUMN juga berperan aktif dalam menyediakan logistik, layanan kesehatan, dan pemulihan listrik. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah pun berjalan dalam satu komando darurat.

Namun, di ranah digital, kecepatan respons ini tidak selalu tersampaikan dengan baik. Narasi yang menyudutkan pemerintah sering kali lebih cepat menyebar, terutama jika disajikan dengan emosi dan provokasi yang kuat.

Di tengah bencana alam, tantangan tidak hanya datang dari kerusakan fisik, tetapi juga dari serangan informasi. Beberapa akun dan kelompok digital memanfaatkan situasi untuk menyebarkan hoaks, membingkai fakta secara sepihak, bahkan menunggangi isu untuk kepentingan politik.

"Ini bukan sekadar kritik. Ini adalah upaya sistematis untuk membelokkan persepsi publik. Masyarakat harus lebih waspada," tegas Efriza.

Dalam menghadapi banjir informasi, masyarakat perlu berperan sebagai filter pertama. Memverifikasi sumber, memahami konteks, dan tidak mudah terpancing emosi adalah langkah awal untuk membangun ketahanan informasi.

"Ketika publik mampu memilah informasi, maka ruang bagi disinformasi akan menyempit," tambah Efriza (9/12).