CILACAP – Presiden Prabowo Subianto memberikan respons tegas terhadap narasi "Indonesia Gelap" yang belakangan ramai diperbincangkan di ruang publik. Prabowo menegaskan bahwa kondisi bangsa saat ini justru berada dalam keadaan stabil, aman, dan penuh optimisme, berbanding terbalik dengan persepsi negatif yang berkembang di media sosial.
Penegasan tersebut disampaikan Presiden saat menghadiri acara peletakan batu pertama (groundbreaking) 13 proyek hilirisasi nasional di Cilacap, Rabu (29/4/2026). Ia menilai pihak-pihak yang menganggap Indonesia dalam kondisi gelap sebagai pihak yang tidak melihat fakta secara jernih.
"Indonesia terang. Ada yang mau kabur? Kabur saja. Kau kabur saja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman ya? Silakan. Mau kabur ke mana?" ujar Prabowo dalam sambutannya yang dikutip melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Presiden menambahkan, berdasarkan berbagai laporan dan data global, Indonesia saat ini diakui sebagai salah satu negara paling aman di dunia. Ia menyayangkan adanya narasi pesimistis dari pihak-pihak tertentu yang dinilai dapat memicu kegaduhan yang tidak perlu.
"Hei orang-orang pintar, bukalah berita, lihatlah kita ditempatkan sebagai tempat yang paling aman di dunia sekarang. Kabur saja deh. Iya, kabur saja, biar kita tidak gaduh," tambahnya.
Selain stabilitas keamanan, Presiden Prabowo juga menyoroti ketahanan ekonomi dan energi nasional. Di tengah ancaman krisis energi global yang melanda banyak negara, ia memastikan bahwa ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri masih terkendali dengan cadangan yang mencukupi.
Lebih lanjut, Prabowo menyatakan komitmennya untuk mewujudkan kemandirian energi dalam waktu dekat. Ia menargetkan Indonesia mampu mencapai swasembada energi dalam kurun waktu tiga tahun ke depan melalui optimalisasi kinerja jajaran kabinet.
"Saya perkirakan dan perjuangkan, menteri-menteri saya sedang bekerja keras. Dalam tiga tahun ke depan, Indonesia akan swasembada BBM dan swasembada energi," tegasnya.
Pemerintah menekankan bahwa pernyataan Presiden tersebut merupakan bentuk respons retoris untuk membangun optimisme publik dan menegaskan posisi pemerintah di tengah dinamika global. Meskipun ruang kritik tetap terbuka dalam sistem demokrasi, pemerintah mengimbau agar setiap kritik disampaikan secara konstruktif dan berbasis data faktual.