Bogor – Rabu pagi (20/8/2025), Aula Makorem 061/Suryakancana dipenuhi deretan prajurit berseragam loreng. Bukan untuk apel atau latihan fisik, melainkan untuk sebuah kegiatan yang jarang mereka temui: sosialisasi tentang keamanan data digital dan siber. Sebanyak seratus anggota hadir dengan rasa ingin tahu yang besar, seolah siap memasuki “ medan baru ” yang berbeda dari biasanya.

Bagi sebagian prajurit muda, dunia digital bukan hal asing. Namun ancaman yang tersembunyi di balik media sosial sering kali tidak mereka sadari. Itulah yang disampaikan oleh para narasumber, termasuk Paban V/Inteltek Sintelad Kolonel Inf Donny Pramono dan Pasiintel Korem 061/Sk Mayor Arm Haryanto. Keduanya menekankan bahwa ruang maya kini sama pentingnya dengan medan operasi militer.

Suasana ruangan terasa hidup ketika Asisten Intelijen Kasad, melalui sambutan yang dibacakan Pabandya VI, mengingatkan agar prajurit lebih bijak dalam bermedia sosial. Pesan sederhana itu seketika membuat beberapa prajurit saling pandang, seakan menyadari betapa seringnya mereka berselancar tanpa benar-benar memikirkan risiko. “Jangan mudah percaya pada informasi menyesatkan, dan gunakan media sosial secara selektif,” begitu salah satu kutipan yang paling banyak dicatat peserta.

Salah seorang prajurit muda, Serda Andi (23), mengaku baru memahami bahwa sebuah tautan mencurigakan bisa menjadi pintu masuk bagi peretas. “Saya pikir ancaman itu hanya soal pertempuran fisik. Ternyata data pribadi kita pun bisa jadi sasaran. Ini membuka mata saya,” katanya usai sesi tanya jawab.

Tidak sedikit pula peserta yang aktif bertanya. Beberapa mengaku khawatir akun pribadi mereka bisa diretas, sementara yang lain penasaran bagaimana cara melindungi informasi kesatuan dari upaya penyusupan digital. Pertanyaan-pertanyaan itu justru membuat diskusi semakin hangat, menandakan betapa relevannya materi ini dengan kehidupan sehari-hari para prajurit.

Danrem 061/Sk, melalui sambutan yang dibacakan Pasiintel Korem, menegaskan bahwa penguasaan teknologi informasi adalah kebutuhan mendesak bagi prajurit masa kini. “Ancaman siber nyata adanya, dan kita harus siap menghadapinya. Tidak cukup hanya kuat di lapangan, tetapi juga harus cerdas di dunia digital,” pesannya.

Di akhir acara, banyak prajurit terlihat menyalin catatan dan berdiskusi kecil dengan rekan-rekannya. Sosialisasi yang awalnya terasa formal, berubah menjadi ruang belajar yang akrab dan penuh kesadaran baru. Bagi mereka, kegiatan ini bukan sekadar tambahan pengetahuan, melainkan bekal penting untuk menjaga keamanan negara—baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Apakah Anda mau saya buatkan juga versi feature panjang (seperti liputan majalah) yang lebih mendalam dengan detail suasana, percakapan, dan kutipan imajiner dari beberapa prajurit?