JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mengusulkan program gentengisasi sebagai kebijakan strategis dalam kerangka Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah). Inisiatif ini bertujuan mengganti atap seng dan asbes dengan genteng tanah liat untuk meningkatkan kualitas hunian masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi desa melalui pemberdayaan industri genteng lokal.
Program gentengisasi diperkenalkan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2026, dengan fokus utama pada penggantian atap yang dinilai kurang layak menjadi genteng tanah liat yang lebih sesuai untuk iklim tropis. Pemerintah berencana menjalankan program ini melalui Koperasi Merah Putih serta pengembangan pabrik genteng berbasis desa.
Polemik di Tengah Urgensi Pembangunan
Meskipun dinilai visioner dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup, program gentengisasi menuai kritik dari berbagai pihak.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sekitar 58 persen rumah tangga di Indonesia sudah menggunakan genteng sebagai material atap. Kritik berfokus pada fakta bahwa wilayah luar Jawa, yang seringkali masih didominasi atap seng, menghadapi tantangan harga dan akses produksi yang lebih besar.
Sebagian pihak mempertanyakan urgensi kebijakan ini di tengah tantangan fundamental seperti kemiskinan ekstrem dan peningkatan layanan kesehatan dasar. Di media sosial, warganet menilai program gentengisasi berpotensi menjadi kebijakan kosmetik semata jika implementasinya tidak disertai dengan subsidi yang memadai dan kajian teknis yang matang.
Dukungan Pejabat dan Keunggulan Teknis
Sejumlah pejabat publik menyatakan dukungan terhadap inisiatif ini, menekankan aspek multifungsi dari gentengisasi.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menilai gentengisasi sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan kualitas hidup dan keamanan hunian masyarakat. Sementara itu, Sekjen Partai Demokrat, Herman Khaeron, menyoroti potensi penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta ekonomi kerakyatan melalui sentra produksi genteng desa.