Balikpapan — Di balik kesuksesan seorang perwira TNI AD muda bernama Nugroho Dwi Hariyanto, ada kisah haru perjuangan orang tua yang tak pernah lelah berdoa dan berkorban. Ayahnya seorang pedagang bakso keliling, dan ibunya dulu bekerja sebagai penjahit di perusahaan pembuat seragam TNI. Dari latar belakang yang sederhana itulah, tumbuh mimpi besar di tengah keterbatasan.
Nugroho, anak kedua dari tiga bersaudara, baru saja resmi dilantik sebagai perwira TNI AD setelah menyelesaikan pendidikan empat tahun di Akademi Militer (Akmil). Tapi jalan menuju cita-cita itu tak mudah. Ia sudah tujuh kali gagal dalam berbagai seleksi, mulai dari tamtama TNI, bintara AL, IPDN, hingga dua kali mencoba Akmil. Namun doa dan dukungan dari kedua orang tua tak pernah surut.
Ibunya, Sri Winarsih, punya kebiasaan yang sangat menyentuh. Saat masih bekerja menjahit seragam TNI, setiap kali memegang kain dinas itu, ia selalu menyisipkan doa: agar suatu hari, anak laki-lakinya bisa mengenakan seragam yang sama. Doa sederhana itu ternyata jadi nyala semangat bagi Nugroho sepanjang hidupnya.
“Waktu kecil, Ibu sering cerita ke saya dan kakak. Katanya, kalau lagi menjahit seragam TNI, dia sambil berdoa, semoga anak-anaknya kelak bisa jadi tentara. Saya pegang doa itu kuat-kuat,” ungkap Nugroho.
Ayahnya, Sudaiman, bukan orang berada. Ia menjalani hari-hari sebagai pedagang bakso untuk menghidupi keluarga dan mendukung impian anak-anaknya. Meski hasil usahanya pas-pasan, sang ayah tak pernah melarang Nugroho mengejar cita-citanya menjadi tentara, bahkan setelah berkali-kali gagal tes. “Bapak cuma bilang, terus coba sampai berhasil. Jangan menyerah. Kami di sini buat doain kamu,” kata Nugroho menirukan pesan sang ayah.
Kini, ketika Nugroho resmi memakai seragam perwira, tangis haru pecah di keluarga kecil itu. Doa ibu dari balik mesin jahit, dan kerja keras ayah mendorong gerobak bakso, akhirnya terbayar lunas. Kakaknya pun sudah lebih dulu bergabung sebagai bintara TNI AD, menambah kebanggaan keluarga yang sangat menghargai nilai pengabdian.
“Buat teman-teman yang sedang berjuang, jangan takut gagal. Libatkan Tuhan dalam segala usaha. Orang tua kita mungkin bukan orang hebat, tapi doa mereka bisa mengubah takdir,” ucap Nugroho, menutup kisahnya dengan pesan mendalam.***