Perlunya Peningkatan Akses Informasi dan Telekomunikasi Percepat Pembangunan Daerah Tertinggal

Perlunya Peningkatan Akses Informasi dan Telekomunikasi Percepat Pembangunan Daerah Tertinggal

JAKARTA-JurnalCakrawala.com Rapat Koordinasi Finalisasi dan Pelaporan dengan tema “Optimalisasi Jaringan Informasi dan Telekomunikasi di Daerah Tertinggal”, diselenggarakan Direktorat Peningkatan Sarana dan Prasarana, Ditjen Pembangunan Daerah Tertinggal, serta mengundang pihak BAPPENAS, BAKTI, dan More »

IWO bersama Ully Sigar dan Seniman Peduli Galang Donasi Sulteng

IWO bersama Ully Sigar dan Seniman Peduli Galang Donasi Sulteng

JAKARTA-JurnalCakrawala.com. Bencana tsunami yang melanda Sulawesi Tengah di Palu, Donggala, Sigi dan daerah-daerah sekitarnya mendorong Yayasan Garuda Nusantara, Rumah Balada Indonesia, Sekolah Musik Vidi Vici, dan IWO (Ikatan Wartawan Online) tergerak untuk More »

Laporkan Korupsi Dapat Hadiah 200 Juta, Jampidsus: Tunggu Anggaran Pemerintah

Laporkan Korupsi Dapat Hadiah 200 Juta, Jampidsus: Tunggu Anggaran Pemerintah

JAKARTA-JurnalCakrawala.com. Kejaksaan Agung siap melaksanakan apa yang telah diatur oleh pemerintah terkait pemberian kompensasi bagi masyarakat yang memberikan informasi kepada penegak hukum akan adanya korupsi maksimal Rp.200 juta. Meski demikian semua diatur More »

Bakamla RI Jalin Sinergitas Dengan Badiklat Kejagung

Bakamla RI Jalin Sinergitas Dengan Badiklat Kejagung

JAKARTA-JurnalCakrawala.com. Badan Pendidikan dan Latihan (Badiklat) Kejaksaan RI menyambut baik kunjungan Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI untuk menjalin kerjasama dan sinergitas dibidang penegakan hukum. Kepala Badan Diklat Kejagung Setia Untung Arimuladi mengapresiasi More »

Pertemuan Bilateral Kejaksaan RI dan Kejaksaan Saint Petersburg

Pertemuan Bilateral Kejaksaan RI dan Kejaksaan Saint Petersburg

JurnalCakrawala.com. Kepala Kejaksaan Saint Petersberg Litvinenko Sergey Ivanovich turut berduka atas bencana gempa bumi dan tsunami yang menewaskan ribuan jiwa di Indonesia. Namun ungkapan belasungkawa itu tidak mengurangi rasa senangnya atas kunjungan More »

 

Wahyuni Aritonang, Balita Miskin Penderita Pembengkakan Pembuluh Darah Batal Berobat ke RS Medan

TAPTENG-JurnalCakrawala.com.

Wahyuni Aritonang, lahir pada tanggal 6 Juli 2018 silam di Dusun III Desa Mombang Boru, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). Dia merupakan anak ke 4 pasangan Frenki Aritonang (34) dan Dewi Sartika Hutauruk (28). Namun malang, bocah berjenis kelamin perempuan ini mengidap penyakit pembengkakan pembuluh darah sejak usia 2 minggu.

Wahyuni terlihat terus menangis menahan sakit yang mendera. Diusianya yang telah menginjak 2 bulan, kulit kepala bagian belakang dan leher bagian belakang terlihat melepuh dan mengeluarkan air dan nanah. Dibawah kepala Wahyuni terpaksa di bentangkan helaian daun pisang. Kondisi ini diawali saat kepala dan leher Wahyuni membengkak pada saat usia 2 minggu.

Sambil menghela nafas Frenki Aritonang, ayah kandung Wahyuni menceritakan awal mula penyakit yang diderita Wahyuni. Ketika menginjak usia 2 minggu, balita yang dilahirkan secara normal ini tiba-tiba mengalami demam tinggi yang disusul dengan pembengkakan kepala dan leher bagian belakang. Kedua orangtuanya pun panik, bayi mungil itu kemudian dibawa berobat ke Puskesmas Sibabangun, lalu dirujuk ke RSUD Pandan untuk menjalani perawatan. Hasil diagnosa dokter, Wahyuni didiagnosa mengidap penyakit pembengkakan pembuluh darah.

“Saat lahir kondisi normal, dia nampak sehat sebagaimana kebanyakan bayi lainnya,” ujar Frenki dengan berurai air mata, Minggu (2/9).

Usai menjalani perawatan di RSUD Pandan selama kurang lebih 1 minggu, pembengkakan kepala dan leher bagian belakang menyusut. Namun, secara perlahan kulit leher bagian belakang melepuh yang menjalar hingga kulit kepala bagian belakang. Oleh pihak RSUD Pandan, Wahyuni di sarankan untuk berobat ke salah satu rumah sakit di Medan.

Karena terkenda kemampuan ekonomi, Frenki akhirnya membawa anak ke 4 nya ini pulang ke rumah. Sebagai buruh harian lepas, Frenki merasa tidak mampu untuk membawa Wahyuni berobat ke Medan. Sementara, untuk mendapatkan perawatan medis di RSUD Pandan, Frenki hanya bermodalkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

Perasaan putus asa menghantui keluarga miskin ini, kondisi kesehatan Wahyuni semakin mmprihatinkan. Jaminan kesehatan berupa KIS maupun BPJS tidak dikantongi ayah 4 anak ini. Kompleksnya kemiskinan yang mendera keluarga ini membuat Frenki tidak bisa berbuat banyak kecuali pasrah dengan kenestapaan. Jangankan untuk biaya berobat, untuk makan sehari saja, Frenki sering keteteran dan kadangkala harus meminjam dulu ke sejumlah tetangga agar mereka bisa makan.

Kini harapan Frenki tertumpu kepada para dermawan dan juga Pemerintah. Ia sangat ingin anaknya lekas sembuh dan sehat seperti semula. Keinginan untuk berobat ke salah satu rumah sakit di Medan terkendala akibat tidak memiliki biaya sepeserpun, konon lagi untuk biaya makan, minum dan transportasi disana.

“Semoga pemerintah maupun para dermawan berkenan membantu biaya pengobatan putri saya ini,” lirih Frenki. (Red/IWO/Dzulfadli Tambunan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *