Pengamat Ari Sumarto Taslim Tentang Moge: Ketika Gaya Hidup dan Komunitas Menjadi Perjalanan yang Berarti
Jakarta, Jurnal Cakrawala - Motor gede (moge) bukan sekadar kendaraan bermesin besar, melainkan simbol yang mencerminkan identitas, gaya hidup, dan semangat kebersamaan. Fenomena moge di Indonesia menawarkan perspektif menarik yang melibatkan perpaduan budaya, ekonomi, dan kebutuhan manusia akan ekspresi diri.
Pengamat sosial Ari Sumarto Taslim menyebut moge sebagai representasi eksklusivitas yang melampaui fungsi transportasi. “Bagi banyak pemiliknya, moge adalah simbol pencapaian, bukan hanya sekadar alat untuk bergerak dari titik A ke titik B. Ini adalah cara mereka menunjukkan status sosial sekaligus menikmati pengalaman yang tidak bisa dirasakan oleh pengendara motor biasa,” jelasnya.
Namun, apa sebenarnya yang membuat moge begitu istimewa di mata para pecintanya?
Moge telah melahirkan banyak komunitas dengan tujuan beragam, mulai dari touring lintas kota hingga kegiatan sosial. Touring menjadi aktivitas favorit yang dilakukan komunitas moge, bukan hanya untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga untuk mempererat persahabatan.
“Melalui touring, pemilik moge tidak hanya menikmati perjalanan, tetapi juga memperkaya pengalaman hidup. Beberapa komunitas bahkan memanfaatkan kegiatan ini untuk menggalang dana atau menyuarakan kampanye sosial,” ujar Ari.
Di tengah hiruk-pikuk kota besar, kehadiran komunitas ini menjadi ruang bagi individu untuk saling berbagi, baik dalam hal teknis kendaraan maupun pengalaman hidup. Di sini, moge menjadi medium untuk membangun hubungan sosial yang autentik.
Bagi sebagian orang, moge adalah penanda keberhasilan finansial. Namun, Ari menegaskan bahwa moge juga mencerminkan kebutuhan manusia akan identitas di tengah masyarakat modern. “Moge adalah cara bagi pemiliknya untuk mengekspresikan diri mulai dari desain motor hingga cara berkendara, semuanya berbicara tentang siapa mereka,” katanya.
Meski demikian, ada tantangan tersendiri bagi pemilik moge di Indonesia. Selain harga tinggi dan pajak barang mewah, keterbatasan infrastruktur jalan menjadi kendala utama. “Jalanan Indonesia belum sepenuhnya ramah bagi kendaraan besar seperti moge. Namun, hal ini tidak menyurutkan semangat pecintanya,” tambah Ari.
Yang menarik, fenomena moge tidak hanya mencerminkan kemewahan, tetapi juga kontribusi sosial. Beberapa komunitas moge di Indonesia terlibat dalam kegiatan amal, seperti memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan atau mendukung kampanye lingkungan.
“Moge mengajarkan kita bahwa gaya hidup dan kepedulian sosial bisa berjalan beriringan. Ini adalah bukti bahwa kendaraan pun bisa menjadi alat untuk membawa perubahan positif,” ujar Ari.
Di balik suara knalpot yang menggelegar, moge adalah simbol dari perjalanan hidup yang kaya makna. Ia tidak hanya melibatkan teknologi dan performa, tetapi juga relasi sosial, identitas, dan kontribusi terhadap masyarakat.
Bagi para pecinta moge, perjalanan adalah soal makna, bukan sekadar jarak. Di sinilah moge menjadi lebih dari sekadar alat transportasi—ia adalah cerminan dari dinamika budaya dan gaya hidup modern yang terus berkembang.*

